Pada usia sekitar 12 tahun, Rasulullah ﷺ ikut bersama pamannya, Abu Thalib, dalam perjalanan dagang menuju Syam (wilayah yang kini mencakup Suriah dan sekitarnya). Dalam perjalanan ini terjadi sebuah peristiwa yang sering disebut dalam kitab-kitab sirah, yaitu pertemuan dengan seorang rahib (pendeta) bernama Bahira.
Poin-Poin Penting
1. Mengikuti Kafilah Dagang
Abu Thalib membawa Muhammad ﷺ dalam perjalanan perdagangan ke Syam.
Perjalanan ini memberi beliau pengalaman melihat dunia di luar Makkah.
Sejak kecil, Rasulullah ﷺ telah dikenal sebagai anak yang jujur dan berakhlak baik.
2. Pendeta Bahira Memperhatikan Muhammad ﷺ
Di daerah Busra, seorang rahib bernama Bahira melihat tanda-tanda yang tidak biasa pada diri Muhammad ﷺ.
Bahira memperhatikan akhlak, perilaku, dan beberapa tanda kenabian yang disebut dalam kitab-kitab terdahulu.
3. Nasihat kepada Abu Thalib
Setelah berbincang dengan Abu Thalib, Bahira menyarankan agar Muhammad ﷺ dijaga dengan baik.
Ia khawatir jika ada pihak yang mengetahui tanda-tanda tersebut dan berniat mencelakainya.
Abu Thalib kemudian semakin memperhatikan keselamatan keponakannya.
4. Persiapan Menuju Kenabian
Peristiwa ini menunjukkan bahwa tanda-tanda kenabian Rasulullah ﷺ telah mulai dikenali oleh sebagian ahli kitab.
Namun pada saat itu beliau belum menerima wahyu dan masih menjalani kehidupan sebagaimana pemuda Quraisy lainnya.
Hikmah
Allah menjaga Rasulullah ﷺ bahkan sebelum beliau diangkat menjadi nabi.
Kejujuran dan akhlak mulia sudah tampak pada diri Rasulullah ﷺ sejak usia muda.
Pengalaman perjalanan membantu memperluas wawasan dan membentuk karakter kepemimpinan.
Perjalanan ke Syam bersama Abu Thalib menjadi pengalaman penting dalam masa remaja Rasulullah ﷺ. Pertemuan dengan Bahira menunjukkan bahwa tanda-tanda kenabian telah mulai terlihat pada diri beliau, meskipun masa diutusnya sebagai rasul masih beberapa tahun lagi.